KASIH
“KASIH” itu mahal, ya...? (._.?)
Namaku Didi, aku tinggal di kota
Denpasar, Bali. Tapi aku ini bukan orang Bali asli, melainkan keturunan
Jawa-china. Ayahku dari Jawa, dan ibuku asli China. Aku punya kakak perempuan
bernama Desy. Kakak-ku berumur 16 tahun. Karena dia cukup pintar, dia bisa
bersekolah di salah satu sekolah ter-favorit di kota Denpasar dan aku hanya
bersekolah di sekolah dasar biasa, walaupun begitu aku selalu mendapat
peringkat tiga besar tiap tahunnya. Ayahku bernama Dedi dan ibuku bernama
Martina, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka hanya libur pada akhir
pekan saja, meski tak jarang mereka selalu pergi ke luar kota. . Mereka sangat
bekerja keras dalam hal pekerjaannya karena mereka berdua mempunyai moto hidup
yang sama, yaitu “1 detik = Rp 1.000“. Sebelum aku dan kakakku bangun tidur,
mereka sudah berangkat ke kantor untuk bekerja dan mereka selalu pulang pada
saat aku dan kakakku sudar tertidur. Jika aku merindukan mereka, aku selalu
menelpon mereka melalui telepon rumah yang ada diruang tamu walau hanya satu
atau dua menit. Karena kerja keras mereka, kami dapat hidup dalam keadaan yang
mencukupi. Tidak ketinggalan, kami juga mempunyai satu pembantu dan satu supir
pribadi. Walau begitu, aku dan kakakku tidak menganggap mereka sebagai pembantu
melainkan teman curhat kami, lagi pula ayah dan ibuku jarang ada di rumah.
Minggu depan, tepatnya tanggal 24
April adalah hari ulang tahunku. Sungguh tak sabar hatiku menantikan hari
favoritku itu. Aku tidak ingin ada acara yang meriah atau besar, aku hanya
ingin berkumpul bersama keluarga untuk makan malam dan meniup lilin bersama,
dan pastinya akan sangat menyenangkan.
Sungguh tak terbayangkan hal yang kutunggu-tunggu itu. Malamnya aku
berpikir dan bertanya-tanya pada diriku sediri “apakah aku bisa meniup lilin
bersama dengan ayah dan ibu???”. Pada saat itu aku mulai meragukan impianku
tersebut.
Besoknya, seperti biasa bibi
menyiapkan sarapan untuk aku dan kakakku. Aku masih memikirkan impianku itu
hingga makananku tumpah ke bajuku.
“Aaww..! yahh tumpah..” kataku.
Sontak bibi langsung datang dan membersihkan bajuku, “mikirin opo to den Didi?”
tanya-nya
“emm.., engga kok bi.” Jawabku.
“gimana sih kamu..!? kalo makan yang bener
dong, de. Kan kasihan bibinya.” Kata ka Desy, aku hanya terdiam dantak tahu
harus berkata apa.
Tiba-tiba bibi menjawab, “yaudah.. ga apa-apa
to, non. Udah kerjaan.”. lantas aku terkejut mendengar perkataan bibi sambil membersihkan
bajuku, “bibi kok peduli banget ya sama aku dan kakak? Ayah dan ibu membayar
bibi buat ngurusin aku. Apa aku harus ngebayar ayah dan ibu biar mereka bisa
datang di acara ulang tahunku?” kataku dalam hati.
“ ayo, dek berangkat sekolah. Udah hampir
talat nih..” ucap kak Desy hingga membuatku kaget.
“ oh iya, kak. Tunggu bentar ya.”
Jawabku.
Di mobil, aku bertanya pada supirku.
“pak, memangnya bapak dibayar berapa ama ayah buat ngasih waktu, tenaga, dan
kasih buat ngurusin aku dan kakak?”
Jawabnya, “maksud de Didi apa?”.
“ kan kasih sayang itu mahal, pak. Ayah mana
mungkin bisa bayar.” Ceplosku. Lantas pak supai terkejut mendengar ucapanku
itu.
“kok dede nanya-nya gitu. Karena ayah dan ibu
dede sayang sama kalian berdua, mereka rela membayar saya dan bibi buat
ngurusin kalian berdua.” Kata supirku.
“kalian ngomong apaan sih?? Ga jelas
banget.” Kata kak Desy. Di sekolah aku masih saja memikirkan hal itu hingga
malam hari.
Malam itu aku pergi ke kamar kak
Desy, tok tok tok “kak? Kak? Boleh masuk ga?” ucapku. “masuk aja”. Aku langsung
masuk dan melihat kak Desy yang sedang duduk di depan laptop sambil mengerjakan
tugas dengan lampu belajar berdiri tegak di sampingnya.
“ mau apa kamu?” tanya kak Desy
“kak, kok ayah dan ibu sibuk banget sih? Nanti
kalo aku ulang tahun mereka bisa deteng gak?” kata ku.
“ gak tahu dek, tanya aja ama ayah
dan ibu.” Cueknya sambil memainkan laptopnya dengan asyik. Blap..!! aku
langsung menutup laptop kak Desy.
“ kamu ngapain sih. Gausah ganggu
kakak! Sana keluar..” marahnya.
“kakak ngerti ga sih ayah dan ibu tu
jarang banget ngurusin kita! Aku pengen kaya dulu, makan bareng, jalan-jalan
bareng dan aku pengen kita semua tiup lilin bareng di hari ulang tahun ku.
Kakak pengen kan di ulang tahun kakak yang ke 17 dirayain bareng-bareng, ada
ayah, ibu, aku, pak supir, bibi. ...KITA KAN KELUARGA!!” tegas ku. Kak Desy
terdiam dan menunduk sejenak “.... emm maaf kak”
“gak apa-apa kok, kakak ngerti,
kakak juga pengen kita bersama-sama lagi. Tapi mau gimana lagi ayah dan ibu kan
sibuk banget.” Kata kak Desy dengan mata berkaca-kaca.
“ayah dan ibu ngebayar bibi biar
bisa ngurusin kita, ayah dan ibu juga ngebayar pak supir buat nganterin kita ke
sekolah. Kita bisa gak ya ngebayar ayah dan ibu biar mereka dateng di acara
ulang tahun ku? Tapi kalo itu bisa, aku bakal beyar berapapun supaya kita bisa
satu lagi.” Ucapku.
“kamu yakin, dek? Kok kakak kurang
yakin ya? “ kata kakak
Ucapku“kakak mau bantu, kan? Kalo
begitu berapa sisa tabungan kakak sekarang..?”
........
*Besoknya di tengah malam*
Tok tok tok... ayah dan ibu mengetuk
pintu rumah, dan bibi langsung membuka pintu rumah. “lho,.? Kok kalian belum
tidur?? Sana tidur kan besok sekolah.” Kata ibu sambil terkejut melihat aku dan
kak Desy duduk di atas sofa.
“ kalo kami tidur, kami ga bisa
ngeliat muka ibu dan ayah.” Ceplosku.
“kamu bicara apa? Yaudah sekarang
cerita ama ayah dan ibu.” Kata ayah dan langsung duduk di sofa bersama kami.
“nih. Kami harap ayah dan ibu bisa
niup lilin bareng di ulang tahun ku nanti.” Kataku sambil memberi amplop.
“ini apa? Maksud kalian apa?” kata
ayah
“ayah ngebayar bibi dan pak supir
biar bisa ngurusin kami, nganterin kami ke sekolah, bikin makanan buat kami dan
lain-lain. Dan ini uang supaya ayah dan ibu dateng di acara ulang tahun Didi
dan ulang tahunku nanti. Kami pengen kita bisa satu seperti dulu lagi.” Kata
kak Desy dengan mata berbinang-binang.
“........” ibu hanya terdiam dan
menunduk.
Lalu ayah memberikan uang itu lagi
padaku dan berkata. “kalian ga perlu ngelakuin semua ini, ayah dan ibu sayang
sama kalian melebihi apapun. Apa susahnya tiup lilin. Ayah tinggal ambil cuti,
beres.” Kata ayah dengan mata berkaca kaca.
“ kalian memang anak yang baik.
Hiks.. ibu sayang kalian berdua..” tangis ibu seketika memeluk kami berdua.
Begitu juga ayah memeluk kami. Aku merasakan sesuatu yang hangat, hangat,
sangat hangat dan nyaman. Seperti waktu dulu. Hangat.
Akhinya waktu yang kutunggu-tunggu
telah tiba. Di hari ulang tahunku, ayah dan ibu mengambil cuti dan merayakan
ulang tahun ku. Dan momen yang sangat aku tunggu-tunggu tiba, yaitu. MENIUP
LILIN BERSAMA!!!!
-TAMAT :D-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar